Minggu, 08 April 2012

Tafsir Tarbawi (Pendidikan Berdasarkan Surat Al-Alaq dan At-Taubah)


 Tugas kelompok  1
PENDIDIKAN  BERDASARKAN SURAT Al-AlAQ DAN AT-TAUBAH
Disusun Oleh:
Indria Pretty Putri                 1111020050
Ahmad Ali                             1111020088
Catur Eva Wulandari          1111020058
Heri Ardani                            1111020035
Kelas/semester:                   PBA-B/Genap
Dosen:           Akmansyah


 







FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN INTAN
BANDAR LAMPUNG
2011/2012

A.    Pendahuluan

1.      Mengetahui kandungan yang terdapat dalam surat at-Taubah
2.      Mengetahui kandungan dalam surat al-Alaq
3.      Mengetahui intisari yang terdapat dalam kedua surat tersebut

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah kandungan yang terdapat dalam surat at-Taubah?
2.      Apakah kandungan yang terdapat dalam surat al-Alaq?
3.      Apa intisari dari kedua surat tersebut?






















A.    Pembahasan







Artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.
(QS. At-Taubah: 122)
                                                Golongan:
                                                Menjaga dirinya:
                                                Orang-orang Mu’min:
                                                 Untuk memperdalam pengetahuan mereka:
                                                Pergi (ke medan perang):
                Ayat ini berkenaan dengan kepergian mempelajari ilmu dan hukum-hukum ad-Din, atau panggilan umum untuk berjihad surat ini termasuk surat Madaniyah karena turun di Madinah pada saat peperangan.
                Ayat ini menunjukkan, bahwa jihad itu dapat dengan harta kekayaan, dapat pula dengan jiwa. Barangsiapa mampu melakukan semuanya, maka wajib melakukannya. Tetapi jika hanya mampu 1 diantara keduanya, maka yang ia mampui itulah yang wajib ia lakukan. Pada masa pengaturan perang, kaum muslimin yang ahli dalam kemiliteran wajib melatih bala tentara.

Allah swt telah menerangkan faidahnya dalam firman-Nya:


Arttinya: “…….. karena demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan. 
      Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:
"Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)".
Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda; "Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran".
        Akan tetapi tentu saja tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.
Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera dunia dan akhirat. 
         Di samping itu perlu diingat, bahwa apabila umat Islam menghadapi peperangan besar yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal ini seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi bila peperangan itu sudah selesai, maka masing-masing harus kembali kepada tugas semula, kecuali sejumlah orang yang diberi tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam dinas kemiliteran dan kepolisian. 
       Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan. 
        Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama. Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Menurut pengertian yang tersurat dari ayat ini kewajiban menuntut ilmu pengetahuan yang ditekankan di sisi Allah adalah dalam bidang ilmu agama. Akan tetapi agama adalah suatu sistem hidup yang mencakup seluruh aspek dan mencerdaskan kehidupan mereka, dan tidak bertentangan dengan norma-norma segi kehidupan manusia. Setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya. 
Dalam hal ini, para ulama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berbunyi:
"Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan yang wajib, maka ia wajib pula hukumnya".
Karena pentingnya fungsi ilmu dan para sarjana, maka beberapa negara Islam membebaskan para ulama (sarjana) dan mahasiswa pada perguruan agama dari wajib militer agar pengajaran dan pengembangan ilmu senantiasa dapat berjalan dengan lancar, kecuali bila negara sedang menghadapi bahaya besar yang harus dihadapi oleh segala lapisan masyarakat.

ASBABUNUZUL SURAT AT-ATAUBAH AYAT 122
Tafsir Sebab turun Surah At Taubah 122
    Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa ketika diturunkan firman-Nya berikut ini, yaitu, "Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih." (Q.S. At-Taubah 39). Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik memberikan komentarnya, "Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu." Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan, "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." (Q.S. At-Taubah 122). 
      Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin yang sangat besar terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah saw. mengirimkan pasukan perang, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi saw. di Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah swt. yang paling atas tadi (yaitu surah At-Taubah ayat 122).
Surat al-Alaq: 1-5



Artinya: (1). Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan.
                (2). Dian telah meenciptakan manusia dari segumpal darah.
                (3). Bacalah dan tuhan-mu lah yang paling pemurah.
                (4). Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
                (5). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

                                                                Bacalah
                                                                Tuhanmu maha pemurah
                                                                Allama/mengajarkan
                                                                Al-insanana/manusia
Prolog turunnya surat al-Alaq
                Surat al- alaq ini termasuk makkiyah  karena turunnya di mekkah .Disebutkan dalam hadits-hadits shahih, bahwa nabi saw. Mendatangi gua Hira (Hira adalah nama sebuah gunung di Makkah) untuk bertujuan beribadah selama beberapa hari. Beliau kembali kepada istrinya− Siti Khadijah−untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari−di dalam gua−beliau dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata kepadanya, : “bacalah!”  : beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang nabi dan menekan-nekannya hingga nabi kepayahan, dan setelah itu ddilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya “bacalah!”, nabi menjawab “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya malaikat memegang nabi lalu menkan-nekannya hingga nabi kepayahan. Setelah itu baru nabi mengucapkan apa yang diucapkan oleh malaikat, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5.
                Para perawi haditrs mengatakan, bahwa nabi saw. Kembali ke rumah Khadijah dalam keadaan gemetar seraya mengatakan,, “selimutilah aku, selimutilah aku”. Kemudian mereka menenyelimuti beliau hingga rasa takut beliaupun hilang, setelah itu beliau menceritakan semuanya kepada Khadijah. Lalu beliau berkata, “aku merasa khawatir terhadap diriku’. Khadijah menjawab,”jangan, bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan membuatmu kecewa. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan silaturrahmi, benar dalam berkata menanggung beban, gemar menyuguhi tamu dan gemar menolong orang yang tertimpa bencana” .
                  Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui waraqoh ibnu Nauffal ibnu ‘Abdil-‘Uzza (anak paman khadijah). Beliau adalah pemeluk agama Nasrani di zaman jahiliyyah, pandai menulis Arab dan menguasai bahasa Ibrani,  serta pernah menulis Injil dalam bahasa Arab dari bahasa aslinya, Ibrani. Beliau seorang  yang sudah lanjut usia, dan buta kedua matanya.
Khadijah berkata kepadanya.”Hai anak paman! Dengarkanlah apa yang dikatakan anak saudaramu ini”. Waraqah bertanya kepada nabi. “Wahai anak saudaraku, apakah yang engkau saksikan?” kemudian nabi saw menceritakan apa yang dialaminya kepadanya. Waraqah berkata, “Malaikat Namus (pakar ahli yang pandai) inilah yang pernah dating kepada Nabi Isa. Jika saja aku masih kuat, dan jika saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu”. Rasulullah saw bertanya, “Ya. Tidak seorangpun membawa apa kau bawa ,melainkan ia akan di musuhi .jika aku masih hidup di masa itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga . Tetapi tidak lama kemudian ia wafat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam  Ahmad, Bukhari dan Muslim.
                Berdasarkan hadis yang lalu dapat disimpulkan bahwa permulaan surah ini merupakan awal ayat-ayat Al-quran diturunkan . Dan merupakan rahmat Allah pertama yang di turunkan kepada hamba-hamba-Nya,serta khittab pertama ynag ditujukan  kepada Rosullullah saw.
 1.Hikmah Allah dalam penciptaan manusia, dan bagaimana Dia menciptakannya dari sel-sel yang amat kecil  hingga  menjadi manusia yang mampu menguasai dunia.
2. Dengan kemurahan, keagungan dan kebaikan –Nya Dia mengajarkan kepadanya berbagai pengetahuan ,sehingga ia berkuasa atas makhluk bumi lainnya.
3. Penjelasan bahwa manusia telah melupakan nikmat Allah yang melimpah kepadanya. Dan tatkala merasa dirinya kaya menjadi keras , sombong dan takabur.






Kesimpulan
Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan
















Daftar Pustaka
Mahmud Syaltut,1990, Tafsir Al-qur’anul Karim, Bandung: CV. Diponegoro
Muhammad Musthafa Al-Maraghi, 1992, Tafsir Al-Maraghi, Semarang: CV. Toha Putra


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar